MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
Pembelajaran
kooperatif merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerjasama diantara
siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif memiliki
ciri-ciri:
·
untuk memuntaskan materi belajarnya, siswa belajar
dalam kelompok secara bekerja sama
·
kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan
tinggi, sedang dan rendah
·
jika dalam kelas terdapat siswa-siswa yang heterogen
ras, suku, budaya, dan jenis kelamin, maka diupayakan agar tiap kelompok
terdapat keheterogenan tersebut.
·
penghargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok
daripada perorangan.
Tujuan Pembelajaran Kooperatif
·
Hasil belajar akademik , yaitu untuk meningkatkan
kinerja siswa dalm tugas-tugas akademik. Pembelajaran model ini dianggap unggul
dalam membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang sulit.
·
Penerimaan terhadap keragaman, yaitu agar siswa
menerima teman-temannya yang mempunyai berbagai macam latar belakang.
·
Pengembangan keterampilan social, yaitu untuk
mengembangkan keterampilan social siswa diantaranya: berbagi tugas, aktif
bertanya, menghargai pendapat orang lain, memancing teman untuk bertanya, mau
mengungkapkan ide, dan bekerja dalam kelompok.
Fase-fase Model Pembelajaran Kooperatif :
Fase
|
Indikator
|
Aktivitas Guru
|
1
|
Menyampaikan tujuan
dan memotivasi siswa
|
Guru menyampaikan
semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan
memotivasi siswa
|
2
|
Menyajikan
informasi
|
Guru menyajikan
informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan
|
3
|
Mengorganisasikan
siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar
|
Guru menjelaskan
kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap
kelompok agar melakukan transisi efisien
|
4
|
Membimbing kelompok
bekerja dan belajar
|
Guru membimbing kelompok-kelompok
belajar pada saat mengerjakan tugas
|
5
|
Evaluasi
|
Guru mengevaluasi
hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing
kelompok mempresentasikan hasil kerjanya
|
6
|
Memberikan
penghargaan
|
Guru mencari cara
untuk menghargai upaya atau hasil belajar siswa baik individu maupun
kelompok.
|
A. Pengertian Kooperatif
Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang
didasarkan pada alasan bahwa manusia sebagai makhluk individu yang berbeda satu
sama lain sehingga konsekuensi logisnya manusia harus menjadi makhluk sosial,
makhluk yang berinteraksi dengan sesama (Nurhadi 2003: 60)
Abdurrahman dan
Bintoro (2000) dalam Nurhadi 2003 : 61 menyatakan Pembelajaran kooperatif adalah suatu sistem
yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Adapun berbagai
elemen dalam pembelajaran kooperatif adalah adanya (1) saling ketergantungan
positif, (2) interaksi tatap muka, (3) akuntabilitas individual, dan (4)
keterampilan untuk menjalin hubungan antara pribadi atau keterampilan sosial
yang secara sengaja diajarkan.
Roger dan David Johnson mengatakan bahwa tidak semua kerja kelompok bisa dianggap coopartive learning. Untuk mencapai hasil yang maksimal, lima unsur model pembelajaran gotong royong harus diterapkan :
1. Saling
ketergantungan positif
2. Tanggungjawab
perseorangan
3. Tatap
Muka
4. Komunikasi
antar anggota
5.
Evaluasi proses kelompok (Anita Lie, 1999 : 30)
Model pembelajaran kooperatif
sangat berbeda dengan pengajaran langsung. Di samping model
pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai hasil belajar
akademik, model pembelajaran kooperatif juga efektif untuk mengembangkan
keterampilan sosial siswa (Usman, 2002 : 30).
Jadi pola belajar kelompok dengan cara kerjasama antar
siswa dapat mendorong timbulnya gagasan yang lebih bermutu dan meningkatkan
kreativitas siswa, pembelajaran juga dapat mempertahankan nilai sosial bangsa
Indonesia yang perlu dipertahankan. Ketergantungan timbal balik mereka
memotivasi mereka untuk dapat bekerja lebih keras untuk keberhasilan mereka, hubungan kooperatif juga mendorong
siswa untuk menghargai gagasan temannya bukan sebaliknya.
Adapun
karakteristik pembelajaran kooperatif adalah :
·
Siswa bekerja dalam kelompok untuk menuntaskan materi
belajar
·
Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki
keterampilan tinggi, sedang dan rendah.
·
Bilamana mungkin, anggota kelompok berasal dari ras,
budaya, suku, dan jenis kelamin yang berbeda.
·
Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang
individu (Ibrahim. dkk, 2000: 6).
Tujuan
penting lain dari pembelajaran kooperatif adalah untuk mengajarkan kepada siswa
keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Keterampilan ini amat penting untuk
dimiliki di dalam masyarakat di mana banyak kerja orang dewasa sebagian besar
dilakukan dalam organisasi yang saling bergantungan satu sama lain dan di mana
masyarakat secara budaya semakin beragam (Ibrahim, dkk, 2000 : 9).
Sedangkan menurut Linda Lungren (1994 : 120) dalam
(Ibrahim, dkk. 2000 : 18) ada beberapa manfaat pembelajaran kooperatif bagi
siswa dengan prestasi
belajar yang rendah, yaitu:
1. Meningkatkan
pencurahan waktu pada tugas
2. Rasa
harga diri menjadi lebih tinggi
3. Memperbaiki
sikap terhadap IPA dan sekolah
4. Memperbaiki
kehadiran
5. Angka
putus sekolah menjadi rendah
6. Penerimaan
terhadap perbedaan individu menjadi lebih besar
7. Perilaku
mengganggu menjadi lebih kecil
8. Konflik
antar pribadi berkurang
9. Sikap
apatis berkurang
10. Pemahaman
yang lebih mendalam
11. Motivasi
lebih besar
12. Hasil
belajar lebih tinggi
13. Retensi
lebih lama
14. Meningkatkan
kebaikan budi, kepekaan dan toleransi
Jadi, pembelajaran
kooperatif mencerminkan pandangan bahwa manusia belajar dari pengalaman mereka
dan partisipasi aktif dalam kelompok kecil membantu siswa belajar keterampilan
sosial yang penting, sementara itu secara bersamaan mengembangkan sikap
demokrasi dan keterampilan berpikir logis.
B. Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
Jigsaw telah dikembangkan dan diuji coba oleh Elliot Aronson
dkk di Universitas Texas dan kemudian diadaptasi oleh Slaven dkk di Universitas
Jhon Hopkins.
Dalam terapan tipe jigsaw, siswa dibagi menjadi berkelompok dengan lima atau enam anggota kelompok belajar heterogen. Materi pelajaran diberikan pada siswa dalam bentuk teks. Setiap anggota bertanggungjawab untuk mempelajari bagian tertentu bahan yang diberikan. Anggota dari kelompok yang lain mendapat tugas topik yang sama berkumpul dan berdiskusi tentang topik tersebut. Kelompok ini disebut dengan kelompok ahli (Ibrahim, dkk. 2000 : 52).
Dalam terapan tipe jigsaw, siswa dibagi menjadi berkelompok dengan lima atau enam anggota kelompok belajar heterogen. Materi pelajaran diberikan pada siswa dalam bentuk teks. Setiap anggota bertanggungjawab untuk mempelajari bagian tertentu bahan yang diberikan. Anggota dari kelompok yang lain mendapat tugas topik yang sama berkumpul dan berdiskusi tentang topik tersebut. Kelompok ini disebut dengan kelompok ahli (Ibrahim, dkk. 2000 : 52).
Langkah-langkah
model jigsaw dibagi menjadi enam tahapan, yaitu :
·
Menyampaikan tujuan belajar dan membangkitkan motivasi
·
Menyajikan informasi kepada siswa dengan demonstrasi
disertai penjelasan verbal, buku teks, atau bentuk lain
·
Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok belajar
·
Mengelola dan membantu siswa dalam belajar kelompok
dan kerja di tempat duduk masing-masin
·
Mengetes penguasaan kelompok atas bahan ajar
·
Pemberian penghargaan atau pengakuan terhadap hasil belajar
siswa (Nurhadi dan Agus Gerrard, 2003 : 40)
Berdasarkan pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa :
·
Menyiapkan tujuan belajar dan membangkitkan motivasi,
Beberapa aspek dari tujuan dan motivasi
siswa tidak berbeda untuk pembelajaran model jigsaw. Guru yang berhasil
memulai pelajaran dengan menelaah ulang, menjelaskan tujuan mereka dengan
bahasa yang mudah dipahami, dengan menunjukkan bagaimana pelajaran itu terkait
dengan pelajaran sebelumnya.
·
Menyajikan informasi kepada siswa dengan demonstrasi
disertai penjelasan verbal, buku
teks atau bentuk-bentuk lain,
Menyajikan informasi
verbal secara jelas kepada siswa dan memberikan petunjuk bagaimana
melakukannya. Petunjuk itu tidak akan diulang di sini. Bagaimanapun juga,
penting untuk menggarisbawahi suatu perhatian singkat tentang penggunaan buku
teks.
·
Pemberian penghargaan atau pengakuan terhadap
hasil belajar siswa
Dalam pembelajaran
kooperatif, guru harus hati-hati dengan cara menilai yang diterapkan di
luar sistem penilaian mingguan yang baru diuraikan di atas. Konsisten dengan
konsep struktur penghargaan kooperatif adalah penting bagi guru untuk
menghargai hasil kelompok dua-duanya hasil akhir dan perilaku kooperatif yang
menghasilkan suatu solusi dilema ini dengan memberikan dua evaluasi bagi siswa,
satu untuk upaya kelompok dan satu untuk setiap sumbangan seseorang individu.
Dalam pelaksanaannya, pembelajaran kooperatif tipe jigsaw memiliki kelebihan dan kekurangan, di antara kelebihannya, yaitu:
·
Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk
bekerjasama dengan siswa lain
·
Siswa dapat menguasai pelajaran yang disampaikan
·
Setiap anggota siswa berhak menjadi ahli dalam
kelompoknya
·
Dalam proses belajar mengajar siswa saling
ketergantungan positif
·
Setiap siswa dapat saling mengisi satu sama lain
(Ibrahim, dkk. 2000 : 70).
Sedangkan
kekurangannya, yaitu :
·
Membutuhkan waktu yang lama
·
Siswa cenderung tidak mau apabila disatukan dengan temannya
yang kurang pandai apabila ia sendiri yang pandai dan yang kurang pandaipun
merasa minder apabila digabungkan dengan temannya yang pandai walaupun lama
kelamaan perasaan itu akan hilang dengan sendirinya (Ibrahim, 2000 : 71).
C. Pembelajaran Kooperatif Tipe Student
Team Achievement Division (STAD)
Pembelajaran
kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division), tipe ini dikembangkan
pertama kali oleh Robert Slavin dan teman-temannya di Universitas John Hopkins
dan merupakan model pembelajaran kooperatif paling sederhana (Ibrahim dkk, 2000 : 6).
Masing-masing kelompok memiliki kemampuan akademik yang heterogen (Depelovment
MA Project, 2002 : 31), sehingga dalam satu kelompok akan terdapat satu siswa
berkemampuan tinggi, dua orang kemampuan sedang dan satu siswa lagi
berkemampuan rendah. Langkah –
langkahnya :
a. Para siswa di dalam kelas dibagi
menjadi beberapa kelompok atau tim, masing – masing terdiri atas 4 atau 5
anggota. Tiap kelompok memiliki anggota yang heterogen, baik jenis kelamin,
ras, etnik, maupun kemampuan ( tinggi, sedang, rendah ).
b. Tiap anggota tim/kelompok menggunakan lembar
kerja akademik dan kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui
tanya jawab atau diskusiantar sesama anggota tim/ kelompok.
c. Secara individual atau tim, tiap
minggu atau tiap dua minggu akan mengevaluasi untuk mengetahui penguasaan
mereka terhadap bahan akademik yang telah dipelajari.
d. Tiap siswa dan tiap tim diberi skor atas
penguasaannya terhadap bahan ajar, dan kepada siswa secara individual atau tim
yang meraih prestasi tinggi atau memperoleh skor sempurna diberi penghargaan.
Kadang – kadang beberapa atau semua tim memperoleh penghargaan jika mampu
meraih suatu criteria atau srandar tertentu.
Para guru pengguna metode STAD untuk mengajarkan
informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu, baik melalui pengajian
verbal maupun tertulis (Ibrahim, dkk, 2000 : 20).
Kelebihan dalam pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah:
·
Dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk
bekerjasama dengan siswa lain
·
Siswa dapat menguasai pelajaran yang disampaikan
·
Dalam proses belajar mengajar siswa saling
ketergantungan positif
·
Setiap siswa dapat saling mengisi satu sama lain
(Ibrahim, dkk. 2000 : 72).
Sedangkan
kekurangan pembelajaran kooperatif tipe
STAD adalah:
·
Membutuhkan waktu yang lama
·
Siswa cenderung tidak mau apabila disatukan dengan
temannya yang kurang pandai apabila ia sendiri yang pandai dan yang kurang
pandaipun merasa minder apabila digabungkan dengan temannya yang pandai
walaupun lama kelamaan perasaan itu akan hilang dengan sendirinya (Ibrahim,
2000 : 72).
·
Tes , Siswa diberikan kuis dan tes secara perorangan.
Pada tahap ini setiap siswa harus memperhatikan kemampuannya dan menunjukkan
apa yang diperoleh pada kegiatan kelompok dengan cara menjawab soal kuis atau
tes sesuai dengan kemampuannya. Pada saat mengerjakan kuias atau tes ini,
setiap siswa bekerja sendiri bekerja sama dengan anggota kelompoknya.
·
Penentuan Skor, Hasil kuis atau tes diperiksa
oleh guru, setiap skor yang diperoleh siswa masukkan dalam daftar skor
individual, untuk melihat peningkatan kemampuan individual. Rata-rata skor
peningkatan individual merupakan sumbangan bagi kinerja percapaian hasil
kelompok.
·
Penghargaan terhadap kelompok, Berdasarkan skor
peningkatan individu diperoleh skor kelompok. Dengan demikian, skor kelompok
sangat tergantung dari sumbangan skor individu.
http://aadesanjaya.blogspot.com/2011/01/pembelajaran-kooperatif-tipe-jigsaw.html
D. Dua Tinggal Dua Tamu ( Two Stay
Two Stay )
Metode ini
dikembangkan oleh Spencer Kagan, yang menekankan pada struktur – struktur
khusus yang dirancang untuk mempengaruhi pola – pola interaksi siswa. Langkah-langkahnya
:
1) Siswa
dibagi ke dalam beberapa kelompok berempat.
2) Siswa
bekerjasama dalam kelompok berempat seperti biasa.
3) Setelah
selesai, dua orang dari masing – masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya
dan masing – masing bertamu ke dua kelompok lain.
4) Dua orang
yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi
mereka ke tamu mereka.
5) Tamu
mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka
dari kelompok lain.
6)
Kelompok mencocokan dan membahas hasil – hasil kerja mereka.
E. TGT (Teams Games Tournament)
Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan
siswa heterogen, tugas tiap kelompok bisa sama bisa berbeda. Setelah memperoleh
tugas, setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi.
Usahakan dinamika kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar
kelompok, suasana diskusi nyaman dan menyenangkan seperti dalam kondisi
permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka, ramah , lembut,
santun, dan ada sajian bodoran. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil
kelompok sehingga terjadi diskusi kelas.
Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan, atau dalam rangka mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Langkah-langkahnya:
Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan, atau dalam rangka mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. Langkah-langkahnya:
a. Buat kelompok
siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan mekanisme
kegiatan
b. Siapkan meja turnamen secukupnya, missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara, meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesepakatan kelompok.
c. Selanjutnya adalah pelaksanaan turnamen, setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). Siswa bisa mengerjakan lebih dari satu soal dan hasilnya diperiksa dan dinilai, sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. Siswa pada tiap meja turnamen sesuai dengan skor yang diperolehnya diberikan sebutan (gelar) superior, very good, good, medium.
d. Bumping, pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketiga-keempat dst.), dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi, siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama, begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama.
e. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual, berikan penghargaan kelompok dan individual.
b. Siapkan meja turnamen secukupnya, missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara, meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesepakatan kelompok.
c. Selanjutnya adalah pelaksanaan turnamen, setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). Siswa bisa mengerjakan lebih dari satu soal dan hasilnya diperiksa dan dinilai, sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. Siswa pada tiap meja turnamen sesuai dengan skor yang diperolehnya diberikan sebutan (gelar) superior, very good, good, medium.
d. Bumping, pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketiga-keempat dst.), dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi, siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama, begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama.
e. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual, berikan penghargaan kelompok dan individual.
F. Strategi
Pembelajaran Kooperatif
Pembelajaran
kooperatif merupakan model pembelajaran dengan menggunakan system
pengelompokan/tim kecil,yaitu antara empat antara enam orang yang mempunyai
latar belakang kemampuan akademik,jenis kelamin,rasa tau suku yang
berbeda.Sistem penilaian dilakukan terhadap kelompok,setiap kelompok akan
memperoleh penghargaan atau reward,jika kelompok mampu menunjukkan prestasi
yang dipersyaratkan.Dengan demikian setiap anggota kelompok akan mempunyai
ketergantungan positif.Ketergantungan semacam itulah yang selanjutnya akan
memunculkan tanggungjawab individu terhadap kelompok dan ketrampilan
interpersonal dari setiap anggota kelompok.
Strategi Pembelajaran Kooperatif bisa digunakan manakala :
a. Guru menekankan pentingnya usaha kolektif,disamping usaha individual dalam belajar.
b. Jika guru menghendaki selruh siswa untuk memperoleh keberhasilan dalam belajar
c. Jika guru ingin menanamkan,bahwa siswa dapat belajar dari teman lainnya.
d. Jika guru menghendaki untuk mengembangkan kemampuan komunikasi siswa sebagai bagian dari isi kurikulum.
e. Jika guru menghendaki meningkatnya motivasi siswa dan menambah tingkat partisipasi mereka.
f. Jika guru menghendaki berkembangnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan menemukan berbagai solusi pemecahan.
Strategi Pembelajaran Kooperatif bisa digunakan manakala :
a. Guru menekankan pentingnya usaha kolektif,disamping usaha individual dalam belajar.
b. Jika guru menghendaki selruh siswa untuk memperoleh keberhasilan dalam belajar
c. Jika guru ingin menanamkan,bahwa siswa dapat belajar dari teman lainnya.
d. Jika guru menghendaki untuk mengembangkan kemampuan komunikasi siswa sebagai bagian dari isi kurikulum.
e. Jika guru menghendaki meningkatnya motivasi siswa dan menambah tingkat partisipasi mereka.
f. Jika guru menghendaki berkembangnya kemampuan siswa dalam memecahkan masalah dan menemukan berbagai solusi pemecahan.
Karakteristik dan prinsip prinsip SPK
Karakteristik SPK
a. Pembelajaran secara tim
b. Berdasarkan pada managemen kooperatif
c. Kemauan unyuk bekerjasama
d. Keterampilan bekerjasama
Prinsip prinsip SPK
a. Prinsip ketergantungan positif
b. Tanggungjawab perseorangan
c. Interaksi tatap mukad. Partisipasi dan komunikasi
G. Prosedur Pembelajaran Kooperatif
Prosedur pembelajaran
kooperatif pada dasarnya terdiri atas empat tahap
1.penjelasan materi, 2. belajar dalam kelompok, 3.
penilaian, dan 4. pengakuan tim.
1. Penjelasan materi
Tahap penjelasan dimaksudkan sebagai proses penyampaian pokok-pokok materi pelajaran sebelum siswa belajar dalam kelompok.Tujuan utama dalam tahap ini adalah pemahaman siswa terhadap pokok materi pelajaran.Pada tahap ini guru memberikan gambaran umum tentang materi pelajaran yang harus dikuasai yang selanjutnya siswa akan memperdalam materi dalam pembelajaran kelompok.Pada tahap ini guru dapat menggunakan metode ceramah,curah pendapat,dan tanya jawab,bahkan kalau perlu guru dapat menggunakan demonstrasi.Di samping itu guru juga dapat menggunakan berbagai media pembelajaran agar proses penyampaian dapat lebih menarik siswa.
2. Belajar dalam kelompok
Setelah guru menjelaskan gambaran umum tentang pokok-pokok materi pelajaran,selanjutnya siswa diminta untuk belajar pada keolmpoknya masing-masing yang telah dibentuk sebelumnya.Pengelompokan dalam SPK bersifat heterogen,artinya kelompok dibentuk berdasarkan perbedaan=perbedaan setiap anggotanya,baik perbedaan gender,latar belakang agama,social ekonomi dan etnik,serta perbedaan kemampuan akademik.
3. Penilaian
Penilaian dalam SPK dapat dilakukan dengan tes atau kuis.Tes atau kuis dilakukan baik secara individual maupun secara kelompok.Tes individual nantinya akan memberikan informasi kemampuan setiap siswa’dan tes kelompok akan memberikan informasi kemampuan setiap kelompok.Hasil aklhir setiap siswa adalah penggabungan keduanya dan dibagi dua.Nilai setiap kelompok memiliki nilai sama dalam kelompoknya,Hal ini disebabkan nilai kelompok adalah nilai bersama dalam kelompoknya yang merupakan hasil kerja sama setiap anggota kelompok.
4.
Pengakuan tim
Pengakuan tim adalah penetapan tim yang dianggap paling menonjol,atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah. Pengakuan dan penghargaan tersebut diharapkan dapat memotivasi tim untuk terus berprestasi dan juga membangkitkan motivasi tim lain untuk lebih mampu meningkatkan prestasi mereka.
Pengakuan tim adalah penetapan tim yang dianggap paling menonjol,atau tim paling berprestasi untuk kemudian diberikan penghargaan atau hadiah. Pengakuan dan penghargaan tersebut diharapkan dapat memotivasi tim untuk terus berprestasi dan juga membangkitkan motivasi tim lain untuk lebih mampu meningkatkan prestasi mereka.
Keunggulan dan kelemahan SPK
Keunggulan SPK
a. Melalui SPK siswa tidak terlalu menggantungkan pada guru,akan tetapi dapat menambah kepercayaan kemampuan berpikir sendiri,menemukan informasi dari berbagai sumber,dan belajar dari siswa yang lain.
b. SPK dapat mengembangkan kemampuan mengungkapkan idea tau gagasan dengan kata-kata secara verbal dan membandingkannya dengan ide-ide orang lain.
c. SPK dapat membantu anak untuk respek pada orang lain dan menyadari akan segala keterbatasannya serta menerima segala perbedaan.
d. SPK dapat membantu memberdayakan setiap siswa untuk lebih bertanggung jawab dalam belajar.
e. SPK merupakan suatu strategi yang cukup ampuh untuk meningkatkan prestasi akademik sekaligus kemampuan social,termasuk pengembangan rasa harga diri,hubungan interpersonal yang positif dengan yang lain,mengembangkan ketrampilan mengatur waktu,dan sikap positif terhadap sekolah.
f. Melalui SPK dapat mengembangkan kemampuan siswa untuk menguji ide dan pemahamannya sendiri,menerima umpan balik.Siswa dapat berpraktik memecahkan masalah tanpa takut membuat kesalahan,karena keputusan yang dibuat adalah tanggung jawab kelompoknya
g. SPK dapat meningkatkan kemampuan siswa menggunakan informasi dan kemampuan belajar abstrak menjadi nyata.
h. Interaksi selama kooperatif berlangsung dapat meningkatkan motivasi dan memberikan rangsangan untuk berpikir.
Keterbatasan SPK
a. Untuk memahami dan mengerti filosofi SPK memang butuh waktu
Cirri utama SPK adalah siswa saling membelajarkan.Oleh karena itu,jika tanpa peer teaching yang efektif,maka dibandingkan dengan pengajaran langsung dari guru,bisa terjadi cara belajar yang demikian apa yang seharusnya dipelajari dan dipahami tidak pernah dicapai oleh siswa..
b. Penilaian yang diberikan dalam SPK didasarkan kepada hasil kerja kelompok.Namun demikian,guru perlu menyadari,bahwa sebenarnya hasil atau prestasi yang diharapkan adalah prestasi setiap individu siswa.
c. Keberhasilan SPK dalam paya mengembangkan kesadaran berkelompok memerlukan periode waktu yang cukup panjang.Dan,hal ini tidak mungkin tercapai hanya dengan satu kali atau sekali-sekali penerapan strategi ini.
d. Walaupun kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan yang sangat penting utnuk siswa,akan tetapi banyak aktifitas dalam kehidupan yang hanya didasarkan kepada kemampaun secara individual.Oleh karena itu idealnya melalui SPK selain siswa belajar bekerja sama,siswa juga harus belajar bagaimana membangun kepercayaan diri.
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2009902-strategi-pembelajaran-kooperatif-spk/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar